Jensen Huang Temui Presiden Lee, Bahas Pusat AI Global Korea
Pada 24 Juli 2026, CEO NVIDIA Jensen Huang bertemu Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung di Fairmont Hotel San Francisco, menjelang AI Summit yang digelar di kota yang sama. Pertemuan ini fokus pada penguatan kerja sama untuk mendukung visi AI nasional Korea — mulai dari infrastruktur AI, semikonduktor, hingga physical AI. Lee memaparkan visi jangka panjang Korea untuk menjadi pemimpin global dalam inovasi AI, dengan memanfaatkan kekuatan industri semikonduktor domestik dan sumber daya manusia yang terampil. Bukan sekadar basa-basi diplomatik, ini soal rantai pasok.

Kerja Sama 25 Tahun NVIDIA dan Korea
Huang menegaskan bahwa NVIDIA dan Korea sudah bermitra lebih dari 25 tahun — dari era PC gaming hingga revolusi AI sekarang. Ia menekankan bahwa kemitraan ini telah bertahan selama lebih dari seperempat abad, dimulai dari era PC gaming dengan GPU GeForce hingga kini mendukung pelatihan model AI skala besar menggunakan arsitektur CUDA. Huang memuji langkah Korea dalam membangun infrastruktur AI nasional, termasuk rencana pembangunan pusat data AI kelas dunia. Presiden Lee mengusulkan posisi Korea sebagai hub utama rantai pasok AI global, yang tidak hanya mencakup manufaktur semikonduktor, tetapi juga pengembangan perangkat lunak AI dan sistem robotika. Huang menyebut pencapaian Korea dalam setahun terakhir di bawah kepemimpinan Lee sebagai "awal dari zaman keemasan sejati." Katanya.

Huang juga mengingat kunjungan sebelumnya ke Korea — makan ayam goreng dan bir — lalu menambahkan, "Orang Korea semuanya suka AI." Pernyataan yang mungkin terdengar ringan, tapi di baliknya ada angka: Korea sudah jadi salah satu pasar wafer dan memori terbesar dunia. Negara ini menghasilkan lebih dari 60% pasokan chip memori global, menjadikannya mitra strategis bagi NVIDIA. Kalau mereka serius jadi hub AI, logistiknya ada.
Baca selengkapnya di sumber asli untuk detail pertemuan. Atau lihat berita Teknologi lainnya untuk konteks industri AI.
Realistisnya: Korea punya pabrik, NVIDIA punya GPU dan CUDA. Tapi membangun hub AI tidak cukup dengan janji dan chicken & beer. Butuh investasi, regulasi, dan tenaga kerja. Langkah nyata seperti pembangunan pabrik AI dan pelatihan tenaga ahli akan menjadi kunci keberhasilan. Kalau Korea serius, ini langkah pertama yang masuk akal. Kalau cuma foto, ya hanya foto.



