
Jujur aja, saya sempat percaya kalau RUBBERZ murni hasil eksperimen vokal Fenix Flexin. Tapi setelah video expose dari produser Medasin beredar, Fenix Flexin sendiri akhirnya mengaku: lagu viral yang rilis 5 Juni itu memang dibuat dengan bantuan AI. Yang dulu sempat dibantah habis-habisan, sekarang terekam jelas di media.
RUBBERZ bukan lagu West Coast rap biasa. Dia nge-1980s banget, synth-pop, dan vokalnya terasa asing—kadang terdengar seperti orang Inggris. Makanya nggak heran kalau pendengar mulai curiga. Fenix Flexin sempat menyebut itu cuma Auto-Tune, reverb, dan "fake UK accent". "No AI on it," katanya waktu itu.
Fenix Flexin dan Pengakuan Soal AI Treblo di RUBBERZ
Masalahnya, Treblo—platform AI musik yang dulu bernama Sonauto—punya jejak digital. Produser Medasin merilis analisis di YouTube pada 30 Juli, membongkar bagaimana RUBBERZ kemungkinan besar dihasilkan dari Treblo. Bahkan classifier Treblo sendiri memberi label "very likely Treblo" dengan tingkat keyakinan tinggi. CEO Treblo, Ryan Tremblay, juga bilang audio di lagu itu "generated almost entirely by our model". Kamu bisa baca selengkapnya di sini kalau penasaran detailnya.

Setelah terbongkar, barulah ada pembelaan baru: "Never said I didn't use AI, I said it had nun to do w recording process." Maksudnya, AI disebutnya ikut di proses mixing, bukan dari awal. Tapi tetap saja, ini jadi pengakuan yang berbeda dari pernyataan sebelumnya.
Sebenarnya, saya nggak mau menghakimi. Musik pakai AI bukan lagi hal yang aneh—banyak yang mencoba, beberapa transparan, beberapa tidak. Dan saya nggak mau sok suci. Yang bikin artikel ini ngena adalah bagaimana kalimat "No AI on it" perlahan berubah jadi "I never said I didn't use AI". Fenix Flexin bukan musisi mainstream pertama yang melakukan ini, dan pasti bukan terakhir. Untuk urusan hit di Billboard Hot 100, RUBBERZ sempat sampai No. 58 pada Juni lalu—sebuah pencapaian yang tidak bisa dianggap remeh, apa pun alat yang dipakai.

Saya rasa, ke depan yang penting bukan cuma soal karyanya, tapi keberanian untuk jujur dari awal. Kita semua tahu industri musik sedang berubah. Pertanyaannya, seberapa besar AI boleh terlibat tanpa menghilangkan cerita manusianya? Mungkin itu diskusi yang lebih seru daripada sekadar mencela.
Nonton dulu video analisis Medasin, terus kabarin saya di kolom komentar: kamu setuju nggak kalau AI di lagu tetap sah-sah saja? Saya sih, jujur aja, makin penasaran.
Cek juga berita Entertainment lainnya buat ngikutin drama musik dan pop culture terbaru.



