
JAKARTA — westside tidak butuh statistik untuk tahu di mana masalahnya. Setelah menang dramatis atas Eintracht Frankfurt di VCT EMEA Stage 2 Play-Ins, ia bilang terus terang: "Kami harus mulai kuat sejak ronde pertama."
GiantX menang dua map dari Frankfurt. Tapi dua map itu dimulai dengan defisit. Lagi. Masalah yang sama menghantui perjalanan mereka sepanjang 2025. Comeback memang manis, tapi di babak gugur, comeback hanya menunda kekalahan berikutnya.
GiantX vs FUT: Satu Langkah dari Zona Aman
Turnamen ini memakai format double-elimination. Kalah sekali belum berarti pulang. Tapi kalah dua kali? Selesai. Lawan berikutnya adalah FUT, dan margin kesalahan semakin tipis.

Play-Ins berlangsung di Badalona, 5–17 Agustus. Formatnya: best-of-three sepanjang bracket, lalu best-of-five di lower final dan grand final. Juara dapat $100.000 dan delapan Championship Points. Runner-up dapat $65.000 dan enam poin. Yang lebih penting dari uang: tiket menuju VALORANT Champions Shanghai.
GiantX dan PCIFIC sama-sama membutuhkan finis dua besar untuk lolos ke turnamen dunia. Tidak ada jalan lain. Ini bukan soal performa bagus. Ini soal bertahan hidup.

Kecepatan Eksekusi, Bukan Sekadar Rotasi
westside dan Flickless berbagi peran sebagai Phoenix dan Cypher. Phoenix memberinya ruang bermain agresif dan independen. Cypher untuk map yang butuh anchor dan pengumpulan informasi. Fleksibel, ya. Tapi yang jadi masalah tahun ini bukan pemilihan agen — itu kecepatan mengambil inisiatif.
Saat melawan Frankfurt, GiantX selalu saja tertinggal lebih dulu. Beruntung lawannya tidak mampu menjaga jarak. Beruntung. Kata itu tidak akan cukup selamanya. Di bracket ini, tim yang start cepat akan duduk santai, sementara yang lambat mati pelan-pelan. Pantau perjalanan GiantX dan hasil Play-Ins di sini, sebelum rotasi mereka kehabisan momentum. Jangan cuma pantau — mulai dari sekarang. Slot menuju Champions tinggal dua. Amankan posisimu di berita Esports lainnya agar tidak tertinggal.



