
Komisi Eropa menjatuhkan denda €890 juta (setara $1 miliar) kepada Google karena melanggar Digital Markets Act (DMA). Ini adalah sanksi pertama di bawah regulasi tersebut. Investigasi menemukan bahwa Google menyalahgunakan dominasinya di pasar mesin pencari dan toko aplikasi untuk mengarahkan pengguna ke layanannya sendiri—seperti shopping, akomodasi, transportasi, dan penerbangan. Tidak ada tawar-menawar: Google harus berhenti memberikan perlakuan preferensial di peringkat pencarian.
Denda Pertama DMA: Larangan Preferensi Layanan Sendiri
Selain sanksi, Google juga diwajibkan membuka komunikasi antara pengembang aplikasi dan pengguna di luar Play Store. Saat ini Google mengambil komisi dari transaksi dalam ekosistemnya. Perubahan ini memungkinkan pengembang menawarkan pembayaran langsung tanpa potongan. Wakil Presiden Eksekutif EC, Teresa Ribera, menyatakan: "Produk terbaik harus menang karena lebih baik, bukan karena dimiliki oleh perusahaan yang menjalankan mesin pencari."

Google bereaksi dengan pernyataan dari presiden urusan global, Kent Walker, yang menyebut denda itu sebagai "penurunan kualitas produk yang didorong oleh sekelompok kecil pengeluh yang mementingkan diri sendiri." Perusahaan mengisyaratkan akan mengajukan banding. Ironisnya, pada awal Juli 2025, pengadilan Eropa menguatkan denda rekor $4,1 miliar dari tahun 2018 atas praktik Android yang mewajibkan produsen ponsel memasang Google Search dan Chrome.
Denda ini mencuat di tengah ancaman tarif dari Presiden AS Donald Trump terhadap negara Eropa yang membatasi perusahaan teknologi Amerika. Namun angka denda $1 miliar ini relatif kecil dibandingkan pendapatan iklan Google yang mencapai $200 miliar per tahun. Bagi pengguna, dampaknya lebih ke arah perubahan kecil di hasil pencarian—layanan Google mungkin akan turun peringkat, tapi tidak hilang. Bagi pengembang, potensi penghasilan dari transaksi di luar Play Store bisa naik.

Kalau kamu developer yang selama ini potong komisi 30% ke Google, ini kabar baik. Kalau pengguna biasa, jangan harap ada perubahan dramatis—Google tetap jadi mesin pencari utama, hanya saja sekarang harus sedikit lebih adil. Baca detail putusan di Wired, atau lihat kumpulan berita teknologi lainnya di sini.



