
Remaja sekarang tidak lagi menganggap AI keren. Riset pasar YPulse yang dilakukan pada tahun 2024 terhadap ribuan remaja di Amerika Serikat menemukan bahwa 37% anak usia 13–17 tahun merasa cringe saat melihat konten AI seperti musik atau video. Lebih dari separuhnya khawatir soal misinformasi dan deepfake. Ini bukan sekadar sentimen negatif—ini data yang bisa diukur.
Remaja, AI, dan Ketidakpercayaan yang Terukur
Angka dari Pew Research menambah gambaran: lebih dari seperempat remaja (28% persisnya) percaya AI akan berdampak negatif dalam 20 tahun ke depan. Alasan mereka? Kehilangan pekerjaan, menurunnya kemampuan berpikir kritis, dan dampak lingkungan. Bukan drama—ini kalkulasi logis dari generasi yang akan menanggung risikonya.

Melanie Green, profesor komunikasi di University at Buffalo, bilang anak-anak ini muak karena AI dipaksakan oleh orang dewasa dan korporasi tanpa mempertimbangkan kepentingan mereka. Mereka sadar betul: "Whatever disruption happens, our generation is going to bear the brunt of it." Di forum Reddit, para guru sering berbagi bahwa murid-muridnya—termasuk yang menggunakan AI dalam tugas—tetap menyuarakan kekhawatiran tentang konsekuensi jangka panjang dan tidak menyukai estetika seni yang dihasilkan AI.

Mayoritas remaja memang melaporkan penggunaan chatbot seperti ChatGPT, namun antusiasmenya campur aduk. Survei menunjukkan mereka lebih sering menggunakannya karena tuntutan sekolah atau karena terpaksa, bukan karena kepercayaan terhadap teknologi tersebut. Banyak yang merasa AI hanyalah alat yang dipaksakan tanpa pemahaman yang mendalam. Baca laporan lengkap Wired di sini untuk konteks lebih dalam.
Kesimpulan buat kamu yang kerja di tech: jangan kira generasi ini akan menerima AI mentah-mentah. Mereka adalah konsumen kritis yang sadar akan risiko. Kalau strategi produkmu cuma mengandalkan "AI keren" tanpa kejelasan manfaat, bersiaplah kena cringe massal. Cek berita Teknologi lainnya untuk referensi pasar yang lebih akurat.



