Kalau kamu mengira para CEO tech membaca fiksi ilmiah untuk mencari inspirasi, Jill Lepore punya kesimpulan yang lebih kasar: mereka pembaca yang buruk. Sejarawan Harvard ini menyebut industri teknologi dipimpin oleh orang yang mengambil masa depan dari pulp science fiction dan komik—lalu mewujudkannya tanpa pemeriksaan. Dalam buku terbarunya, The Rise and Fall of the Artificial State, Lepore menyebut fenomena ini bukan kemajuan, tapi 'kembalinya tirani dan mistifikasi dalam bentuk aturan oleh algoritma, korporasi, dan mesin.'
Jill Lepore dan 'Artificial State'
Lepore mendefinisikan 'artificial state' sebagai konstruksi yang menggantikan negara-bangsa demokratis liberal. Bukan lewat kudeta, tapi lewat korporasi swasta yang mengambil fungsi pemerintah tanpa persetujuan. Awalnya soal efisiensi, lalu dalam 20–25 tahun terakhir menjadi pengambilalihan peran negara secara sengaja.
Ini bukan kritik dari orang yang anti-teknologi. Lepore menegaskan dia 'tidak anti-teknolog' dan menikah dengan seorang ilmuwan komputer. Yang dia persoalkan adalah konsentrasi kekuasaan: perusahaan swasta menjalankan fungsi publik, dari moderasi wacana sampai layanan dasar, tanpa mekanisme consent yang melekat pada demokrasi. Perusahaan bisa berganti CEO; negara punya konstitusi.
Salah satu target utamanya adalah Elon Musk. Lepore bilang Musk dan sejumlah pengusaha teknologi terkemuka 'menghadirkan masa depan yang ditarik dari fiksi ilmiah pulp dan buku komik yang salah dibaca.' Yang lebih menarik: 'hal-hal yang dia sukai benar-benar mengalahkan dan menentang semua keyakinan politiknya.' Ini bukan sekadar ironi—ini contoh bagaimana preferensi estetika masa depan bisa bertentangan dengan struktur kekuasaan yang dia dukung.
Buku ini berasal dari riset sejarah serius. Lepore adalah staf penulis The New Yorker dan peraih Pulitzer untuk sejarah Konstitusi AS—jadi kritiknya bukan opini pinggiran. Dia menelusuri bagaimana ide artificial state lahir dari fiksi ilmiah, lalu diadopsi sebagai cetak biru oleh para teknokrat. Menurutnya, negara artifisial ini akan gagal, dan kegagalan itu sudah tertanam dalam desainnya.
Kalau kamu ingin tahu argumen lengkapnya, baca liputan TechCrunch dan berita Teknologi lainnya.
Perhitungannya sederhana. Kalau negara digantikan oleh korporasi, yang menang adalah pemegang saham, bukan warga. Dan itu bukan fiksi ilmiah—itu rancangan. Pertanyaannya, kamu mau ikut memilih, atau sekadar jadi pengguna?


